Sebesar apapun kita sebanyak apapun yang kita miliki tidak bisa tidak kembali juga kita pada sang pemilik
Apapun yang terjadi, LAKUKANLAH SATU PEKERJAAN YANG BAIK HARI INI, hitung waktumu 24 jam atau 1.440 menit sejak sekarang. Jangan pikirkan MASA LALU atau MASA DEPAN, karena engkau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi ESOK.Katakan PERDULI APA.? dengan MASA LALU, sebab ia telah berlalu, dan kita tidak lagi bisa memilikinya. Kenyataannya, KITA HANYA PUNYA HARI INI SAJA.!
Sebagai peringatan agar kita teguh hari ini, yakinkan dirimu, bahwa kita tidak mungkin bisa hidup di dua kutub berbeda secara bersamaan Jika kita hidup di kutub utara, tdak mungkin juga berada di kutub selatan Jika kenyataan ini pasti, maka demikian hidup kita, engkau tidak akan bisa hidup dengan memikirkan masa depan, menghidupkan krmbali masa lalu. Sampai kapanpun kita tidak akan bisa berjalan ! Di saat rasa jenuh datang, disaat itulah kita bermaksud menunda sesuatu hari ini, katakanlah, ”Aku akan melewati jalan ini hanya sekali. Karenanya setiap perbuatan baik yang dapat Aku lakukan kepada siapapun, biarlah saya lakukannya sekarang juga. Jangan biarkan kita menunda dan jangan biarkan kita mengabaikannya. Karena setelah hari ini …kita tidak akan pernah melewati jalan ini lagi !”.
Hidup kita hari ini adalah anugerah. Kita bisa melakukan dengan tidur seharian atau duduk di depan televisi sambil relak, menikmati hiburan yang tidak terbatas. Kita tidak akan letih, remote control telah memanjakan kita agar duduk manis kita tidak terganggu. kita juga boleh melamun membayangkan masa depan yang indah, tentang panorama laut yang luas dan tidak bertepi berteman deburan ombak angin yang berdesir tatkala menyentuh pinggiran pantai nikmatilah sentuhan air tatkala menyentuh jemari kaki … ala maak !.. indahnya.Atau pikirkanlah masa lalumu, bayang masa kecil yang menakutkan atau membahagiakan. Baca detik demi detik perjalanan hidup yang lalu penuh dinamika dan betapa terbukti nyatanya hari ini kita masih saja bisa hidup. Luar biasa ! Percayalah, tidak ada yang bisa menekanmu untuk melakukan sesuatu hari ini. Engkau bebas memakai baju apa saja, sepatu yang cocok dengan cuaca hari ini atau memilih jenis lagu karaoke yang hendak dilantunkan. Siapa yang bisa melarangmu. Lalu mengapa engkau harus melakukan sesuatu hari ini? Siapa yang mengharuskan itu? Siapakah orang yang telah berani memmberi perintah padamu untuk melakukan sesuatu. Bukankah engkau adalah makhluk yang dilahirkan merdeka,
Mengapa mereka membuatmu terpenjara katakan Tidak ! Engkau layak menentang siapapun yang mencoba mengatur ritme hidupmu. Bukankah hanya engkau yang lebih memahami apa dan bagaimana serta seperti apa hidup yang engkau inginkan. Bukankah mereka hanya bicara dan bahkan tidak pernah memahami hakikat dirimu yang sebenarnya. Dasar apa mereka menuntut engkau harus melakukan sesuatu.
Kekeliruan sebagian besar orang adalah tatkala ia melupakan eksistensi dirinya. Anda dan mungkin banyak orang di sekitar kita merasa bahwa kita harus menjadi sesuatu.Sewaktu masih bersekolah tingkat dasar, saya menghadiri Peringatan Hari Kemerdekaan. Saya begitu kagum melihat para Pejabat Negara yang datang dengan iringan pengawal yang luar biasa. Saya begitu terkesan dengan sikap penyambutan yang dilakukan, mulai dari cara membukakan pintu mobil, karpet merah yang hanya boleh dilalui mereka, serta tempat duduk yang disediakan secara khusus. Sikap dan cara berjalan serta wibawa yang terpantul, membuat saya berangan-angan, “alangkah indahnya kalau saya bisa jadi pejabat”.
Ketika menyaksikan bagaimana seorang anak dari keluarga kaya raya memamerkan permainannya, melihat betapa supirnya begitu sopan dan selalu bersikap menunduk kepadanya, bajunya yang mahal, rumkahnya yang besar yang dilengkapi dengan kolam renang – Saya lalu berkata dalam hati : “alangkah enaknya jadi anak orang kaya”.
Ketika menginjak masa remaja, wanita-wanita cantik itu umumnya anak orang kaya. Parfumnya saja membuat diri sudah mabuk kepayang. Sayang, tampang pas-pasan, nyali menjadi ciut seketika. Namun, tatkala melihat temanku terbukti menjadi rebutan para dara cantik hanya karena ia seorang juara kelas ; Saya berfikir pula, betapa indahnya jika saya bisa menjadi juara kelas.
Tatkala menginjak masa remaja, tumbuhlah jiwa petualang. Ada kekuatan untuk menampilkan kemampuan dan keberanian diri. Uji nyali, dan tindakan yang bisa menunjukkan citra diri sebagai pemuda yang kuat, tangguh, dan betrtanggung jawab, terasa begitu kuatnya. Sayang, orang tua malah bersikap merendahkan dan cenderung membatasi gerakan. Nantilah … tidak bisa … tidak boleh … belum saatnya. Bahkan terkadang mematikan imajinasi, “Kamu masih bau kencur”, “tahu apa kamu !”. Lalu tumbuhlah khayalan, betapa enaknya menjadi orang dewasa. Bebas bertindak dan bebas mengambil keputusan.
Ketika telah menyelesaikan pendidikannya, ia mulai merintis hidupnya dengan mencari pekerjaan. Dari setiap lowongan yang termuat di mass media telah ia jajal. Hasilnya penolakan. Karena yang dibutuhkan adalah yang memiliki pengalaman. Kapan mau punya pengalaman, diterima kerja saja tidak ...? Sedangkan ketika ia mencari dengan mengajukan lamaran langsung ke berbagai instansi, lembaga atau kelompok profesi, maka ia ditolak, karena tidak punya referensi. Apa sih itu referensi, samakah ia dengan koneksi ? Terkadang ia ditolak dengan cara halus, “Maaf… lowongan sudah penuh, jika nanti ada kesempatan, Anda akan kami hubungi”. Ya iyalah… mana ada sekolah didirikan, sedangkan gurunya belum ada. Bagaimana mungkin ada perusahaan yang sudah berjalan sedang karyawan dan staffnya belum terbentuk.
Tatkala kita telah menikah, kiranya tumpukan masalah bukannya berkurang. Idealisme masa muda seakan tidak pernah ada, ketika kita dihadapkan pada masalah biaya pendidikan anak, rumah yang masih menyewa, pekerjaan yang belum memberi pendapatan yang memadai, serta masalah anak yang mulai menimbulkan persoalan di sekolahnya.Bukan hanya itu, sesungguhnya kita memiliki masalah tersendiri dengan teman kerja. Upaya saling jatuh menjatuhkan, perilaku menjilat pada atasan, telah membuat kita nyaris tidak memperoleh kesempatan untuk maju dan meningkat. Perhatian atasan kita lebih membuat kita mati rasa melalui tuntutan yang tidak pernah habis.
Tatkala kita dihadapkan pada semua masalah
Istri sendiri ternyata tidak begitu peka akan situasi yang dialami. Pada kenyataannya istri justru suka memberi tekanan dan kurang memberi penghargaan atas apa yang pernah diterimanya. Semua serba kurang dan belum mencukupkan. Ironisnya, tatkala kita mengutarakan masalah atau hambatan yang tengah dialami, dan meminta dukungannya melalui perhatian atau pandangannya, bukannya dukungan yang diperoleh, melainkan pukulan balik yang menyakitkan, “ apa saya bilang… “, “ gak percaya sih... ”.
Lalu apakah yang harus saya lakukan ? Tatkala kita dihadapkan pada semua masalah di atas, kita sering berkata atau bertanya ‘apa yang harus saya lakukan’, padahal jawaban atas pertanyaan itu hanyalah sebuah penjawaban atas masalah itu sendiri, dan jawaban atas sebuah tanya hanya akan melahirkan pertanyaan baru. Lalu sampai kapan kita berhenti bertanya agar bisa berhenti menjawab ? Letak persoalannya adalah karena kita bersedia menerima pilihan mereka. Harus melakukan ini, harus melakukan itu, semestinya harus begini dan jangan begitu. Padahal anda tidak harus melakukannya. Anda bisa memilih.
Memilih adalah sikap elegan dari sosok manusia merdeka. Memilih berarti melakukan sesuatu berdasarkan pilihan sadar dan bukan keterpaksaan. Memilih berarti menentukan apa yang sebaiknya menurut kita, bukan apa yang seharusnya menurut mereka. Memilih berarti mengerjakan apa yang terbaik berdasarkan pandangan hidup kita, bukan apa yang terbaik menurut pandangan hidup orang lain. Bukankah semua orang ingin diakui. Semua orang mendambakan ‘arti dirinya’ bagi orang lain. Dan betapa tidak ada seorang pun di muka bumi ingin hidup seperti orang lain hidup. Semua orang justru memimpikan dirinya menjadi ‘cermin’ kehidupan bagi orang lain. Semua orang ingin terdepan !
Bagaimana menjadi orang terdepan jika hidup kita justru ditentukan orang lain. Ketika kita bersedia menerima kata ‘harus’ bukankah itu isyarat kita telah memasukkan ‘ide’ orang lain ke dalam diri kita. Itu artinya hidup kita berdasarkan ‘cuaca sosial’. Impian dan harapan kita bukanlah impian dan harapan yang berasal dari dalam diri, melainkan tumbuh dari harapan sosial. Jiwamu menjadi sibuk dengan berbagai persoalan sosial yang bertumpuk, engkau pun jadi gundah gulana.
Menarik sekali apa yang dikatakan Ibnul Qayyim Aljauziah :
“Mengapa engkau tidak merasa gundah gulana. Jika pagi dan petang hasrat tertuju ke dunia, maka jadilah kegundahan dan kesusahan dunia terpikul dalam pundakmu. Engkau jadi mengabaikan dirimu sendiri, menggantinya dengan menyibukkan pada apa yang menyenangkan hatinya dunia, mencintai makhluknya, menjadikan lidahmu sibuk menyebut nyebutnya.
Engkau mengerahkan seluruh anggota tubuhmu untuk tunduk dan taat padanya, Engkau bahkan harus mencakar seperti binatang buas mencakar karena pengabdianmu pada makhluknya, bahkan engkau rela menjadi alat peniup api yang menggelembung untuk kepentingan orang lain”.
Apa yang diperoleh ? Kosong.
Saya telah memulai hidup dengan berfikir positif. Sejak pertama kali saya menyadari ‘arti hidup’, saya segera menancapkan sebuah tonggak kehidupan menuju masa depan yang diimpikan. Ketangguhan dan keuletan, manajemen waktu dan kepiawaian memanfaatkan secercah peluang, telah membuat saya selalu berhasil melangkah lebih cepat dari kebanyakan teman. Saya selalu mewaspadai sikap agar selalu dalam posisi bersikap positif. Saya menegaskan bahwa dalam kesempitan itulah ada keluasaan. Dalam hambatan itulah terdapat peluang. Dalam tantanganlah berarti kemenangan. Maka dalam usia yang masih muda, saya berhasil mencapai karir yang saya impinan. Saya menjadi tenaga professional muda yang luar biasa, tentu saja kecukupan financial yang layak dibanggakan.
Akan tetapi saya selalu merasa kesepian, saya bukan saja melupakan kedua orang tua, bahkan saya sulit bersikap mesra dengan anak dan istri saya. Saya tidak mengerti bagaimana ‘mengisi kekosongan’ dalam rumah kami yang luas, ketika saya istri dan anak-anak berkumpul bersama. Tidak tahu bagaimana mulai berbicara, yang bisa mematahkan kebekuan. Semua begitu dingin. Saya bahkan sulit menemukan teman untuk bersenda gurau. Saya sering bertanya pada diri sendiri – inikah yang disebut dengan berhasil ? Apakah keberhasilan seperti ini pantas sebagai pembalasan atas semua jerih payah dan pengorbanan yang saya lakukan ?
Sungguh tidak pernah saya lupakan, betapa beratnya tantangan dan perjuangan untuk membuktikan betapa kasih dan cinta kami sedemikian sempuirnanya.
Saya bagai pahlawan yang dengan lantang akan menantang dan bahkan bila perlu menerjang siapa saja yang menghalangi bersatunya cinta kami berdua. Bahkan kami rela mengorbankan diri untuk menjadi tersingkir dan diasingkan dari keluarga karena ketidak setujuan mereka atas kemuliaan dan ketulusan cinta kami. Atas nama cinta kami membangun hidup meski bermula dari derita demi derita.
Tatkala waktu berjalan, perkawinan kami terasa berjalan datar. Kami tidak menyenangi keributan dank arenanya tampak begitu damai. Saya begitu sibuk untuk bekerja, sedangkan pendidikanb istri saya telah membuat ia berhasil menempati posisi strategis di kantor tempat ia bekerja. Rumah kami terbilang bagus dan sempurna, berada di pusat kota, dengan hunian yang begitu asiri dan jauh dari kebisingan. Pengembangnya begitu brilian, sehingga meski di tengah kota, kami merasa layaknya tinggal di pedesaan. Masalahnya hanya kami merasakan betapa deru cinta yang dahulu menderu, seolah telah menjadi tawar dan hambar. Gairah seksual diantara kamipun begitu terasa dipaksakan. Hal itu berlaku seolah karena rutinitas dan sekedar tanda bahwa kami masih saling setia. Dimana tawa, canda dan gairah ? Kami merasa malu terhadap orang orang atau teman atau siapapun mereka yang pernah menentang kami. Sikap yang dahulu kami anggap sebagai tindakan heroic, seolah kini menjadi gunung besar yang bertengger di atas pundak. Kami tiba-tiba tidak mengerti, mengapa menjadi begini …?
Hari ini adalah kesempatan saya untuk bangkit
Saya sibuk – benar benar sibuk. Tidak ada sesuatu pun yang bisa saya andalkan ketika hidup saya kelak berakhir dalam ketidfak berdayaan. Saya selalu termotivasi, agar masa pensiun saya benar-benar masa yang indah dan menyenangkan. Hari ini adalah kesempatan saya untuk bangkit dan membangun fondasi demi pondasi agar bangunan kehidupan saya dapat melahirkan kemandirian. Masa tua saya tidak boleh terganggu dengan kondisi anak yang tidak mapan, atau urusan cucu yang merepotkan. Setidaknya, untuk semua link menuju itu harus saya bangun sejak dini.
Maka saya tidak pernah membiarkan sedikit pun terjadinya ‘pemborosan’. Bersikap hemat adalah prinsip utama saya. Silahkan orang berkata, pelit, kikir atau apalah, sebab tahu apa mereka dengan kehidupan saya kelak. Bukankah kehidupan saya saya yang bertanggung jawab karena itu, saya lebih tahu membedakan makna hemat dengan pelit. Setelah pension saya mendadak shock. Saya tidak mengerti mengapa saya merasa shock. Saya tidak tahu mengapa saat ini saya selalu mudah tersinggung. Saya tidak mengerti kenapa mengalami sakit kesulitan tidur.
Sejujurnya saya iri dengan tetangga sebelah rumah saya yang begitu ramai dan selalu ramai. Saya melihat teman saya begitu mesranya dengan sang cucu, sedangkan sang nenek terlihat masih saja muda, padahal saya tahu persis usianya di bawah usia istri saya. Dalam sebuah pertemuan di Masjid, saya begitu banyak melihat usia-usia tua masih sangat produktif. Mereka memiliki banyak teman, dan nyaris tidak ada ‘kelesuan’. Mereka benar-benar masih ‘hidup’.
Pekerjaan mereka begitu besar, membangun masjid berlantai dua, mengupayakan gedung madrasah bahkan mendirikan panti asuhan bagi anak orang miskin, yatim atau yatim piatu. Dan semua itu hanya mengandalkan modal sendiri, dibantu sponsor dan donator. Saya sendiri hanya bisa diam, termangu. Saya malu karena saya justru sibuk mengurusi bunga. Saya malu karena saya sibuk mencuci mobil terbaik yang saya miliki. Saya malu karena saya nyaris tidak punya tamu. Anak-anak saya juga sedang mencari penghidupan, sedangkan cucu-cucu begitu jauh dari harapan. Mereka lebih melihat saya sebagai orang yang sudah tua, pikun dan entahlah… apa yang dibenak mereka. Saya malu terhadap semua orang, inikah yang namanya keberhasilan ? Inikah yang disebut sukses ? Mana cita-cita besar dulu, tercapaikah atau ternyata hanya sebuah fatamorgana …kosong !
Mengapa engkau tidak merasa gundah gulana ? Orang yang mencari keduniaan tidak akan pernah lekang dari kekhawatiran sebelum dia benar benar memperolehnya serta saat mendapatkannya. Dan pada saat kehilangannya ; Dia menjadi gundah gulana. Manakah lagi janji yang menyenangkan dari dunia ?Karena engkau berangkat dari harapan sosial. Dirimu larut dalam dinamika sosial, bertindak dan berbuat berdasarkan cuaca sosial dan akhirnya memiliki kepribadian sosial. Sebagai seorang muslim anda selayaknya merenungkan kembali kebenaran Firman Allah :
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
Qs. Ali Imran : 110
Bahwa anda adalah makhluk (insan) pilihan. Lahir untuk membawa sebuah perubahan untuk penyempurnaan. Anda terbukti dilahirkan sebagai pemegang kekuasaan Allah di muka bumi.
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi…."
Qs. Albaqarah : 30
Sebab Anda adalah makhluk yang telah ditakdirkan bernilai lebih dan memiliki kemampuan lebih tinggi dari yang lainnya. Ini adalah tantangan, sebab semua kelebihan itu pasti menuntut pertanggung jawaban..
Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu.
Qs. Al An’am : 165
Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, Maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka.
Qs. Fathir : 39
Inilah dirimu yang sesungguhnya. Engkau memiliki sebuah potensi (kekuatan) dalam dirimu sendiri untuk mempengaruhi bukan untuk dipengaruhi. Anda dapat merubah apa yang seperti adanya menjadi seperti apa yang semestinya. Jika tidak, maka penderitaan hari ini hanyalah awal dari penderitaan yang lebih besar yang akan datang setiap hari.
0 komentar:
Poskan Komentar
Kritik dan saran menjadikan motifasi :